Selasa, 21 Februari 2012
Sabtu, 18 Februari 2012
Luis Suarez Apes?

Seperti diberitakan berbagai media, FA sebagai badan tertinggi sepakbola Inggris telah menjatuhkan sanksi untuk pemain andalan Liverpool, Luiz Suarez. Pemain asal Uruguay tersebut dituduh bertindak rasis terhadap pemain Manchester United, Patrice Evra
Dugaan dialog kedua pemain saat bertanding di Anfield Oktober silam, kira-kira seperti ini:
Evra: "Don't touch me, you South American."
Suarez: "Por qué, negro?"
(Evra: "Jangan sentuh saya, Amerika Latin."
Suarez: "Kenapa, negro?")-dikutip dari Goal.com-
Dimana beritanya tersebar karena selepas pertandingan Evra mengadu kepada media Prancis. Sampai kemudian FA mengadakan penyelidikan.
Kemudian FA memutuskan Suarez bersalah dan mendapatkan larangan bermain 8 laga dan denda £40 ribu.
Tentu keputusan ini mendapatkan reaksi pro dan kontra.
Khususnya kubu Liverpool, kompak membela Suarez. Karena dianggap tidak bersalah. Para pemain Liverpool menganggap Suarez bukanlah seorang yang rasis.
Bila mengacu pada dialog di atas, sebenarnya yang menjadi pemicu adalah ucapan Evra. Herannya ucapan "Amerika Latin" tidak dianggap sebagai rasis. Tapi ucapan "negro" justru dianggap rasis.
Selama ini kasus rasisme yang diangkat adalah yang menimpa kaum negro. Aneh memang sebuah perkataan "negro" bisa dianggap rasis. Padahal itu belum tentu sebagai sikap menghina.
Apakah perkataan "negro" mengacu pada orang negro yang dipersepsikan sebagai budak selama ini? Jangan-jangan orang negronya sendiri yang menganggap dirinya rendah dengan sebutan "negro".
Padahal kenyataannya orang-orang negro termasuk hebat diberbagai bidang. Bahkan bisa menjadi pemimpin yang hebat. Apalagi dibidang olahraga dan seni suara. Banyak lahir orang-orang negro yang hebat.
Jadi kasus rasis yang dialami Suarez, karena sedang apes saja. Dimana FA ingin menunjukkan bahwa mereka serius menangani sikap rasisme di atas lapangan hijau.
Namun saya tetap tidak habis pikir. Evra yang jelas-jelas sebagai pemicu dengan menyebut Suarez "Amerika Latin" bisa bebas dari hukuman.
Kalau tindakan Suarez mau dianggap sebuah kesalahan, seharusnya tindakan Evra pun adalah suatu kesalahan.
Entahlah, pasti orang-orang FA lebih pintar-pintar dalam hal pasal-pasal atau peraturan yang mereka buat.
Padahal pasal-pasal yang dibuat untuk melindungi "orang-orang kulit hitam" alias negro. Secara tidak langsung merendahkan atau sikap rasis terhadap orang negro itu sendiri.
Diposting oleh Walid Waliyuddin di 08.52 0 komentar
Label: liverpool
Kamis, 29 September 2011
SEJARAH INDONESIA MASA KEMERDEKAAN antara tahun 1945 - 1950an


Perjuangan Bangsa Indonesia Dalam Mempertahankan Kemerdekaan Dari Ancaman DisIntegrasi Bangsa Terutama Dalam Pergolakan Dan Pemberontakan
Pemberontakan Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia (DI/TII) terjadi di empat daerah, yaitu :
1.DI/TII Jawa Barat
Sekar Marijan Kartosuwiryo mendirikan Darul Islam (DI) dengan tujuan menentang penjajah Belanda di Indonesia. Akan tetapi, setelah makin kuat, Kartosuwiryo memproklamasikan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII) pada tanggal 17 Agustus 1949 dan tentaranya dinamakan Tentara Islam Indonesia (TII). Upaya penumpasan dengan operasi militer yang disebut Operasi Bharatayuda. Dengan taktis Pagar Betis. Pada tanggal 4 juni 1962, Kartosuwiryo berhasil ditanggap oleh pasukan Siliwangi di Gunung Geber, Majalaya, Jawa Barat. Akhirnya Kartosuwiryo dijatuhi hukuman mati 16 Agustus 1962.
2.DI/TII Jawa Tengah
Gerakan DI/TII juga menyebar ke Jawa Tengah, Aceh, dan Sulawesi Selatan. Gerakan DI/TII di Jawa Tengah yang dipimpin oleh Amir Fatah di bagian utara, yang bergerak di daerah Tegal, Brebes dan Pekalongan. Setelah bergabung dengan Kartosuwiryo, Amir Fatah kemudian diangkat sebagai �komandan pertemburan Jawa Tengah� dengan pangkat �Mayor Jenderal Tentara Islam Indonesia�. Untuk menghancurkan gerakan ini, Januari 1950 dibentuk Komando Gerakan Banteng Negara (GBN) dibawah Letkol Sarbini. Pemberontakan di Kebumen dilancarkan oleh Angkatan Umat Islam (AUI) yang dipimpin oleh Kyai Moh. Mahfudz Abdulrachman (Romo Pusat atau Kiai Sumolanggu) Gerakan ini berhasil dihancurkan pada tahun 1957 dengan operasi militer yang disebut Operasi Gerakan Banteng Nasional dari Divisi Diponegoro. Gerakan DI/TII itu pernah menjadi kuat karena pemberontakan Batalion 426 di Kedu dan Magelang/ Divisi Diponegoro. Didaerah Merapi-Merbabu juga telah terjadi kerusuhan-kerusuhan yang dilancarkan oleh Gerakan oleh Gerakan Merapi-Merbabu Complex (MMC). Gerakan ini juga dapat dihancurkan. Untuk menumpas gerakan DI/TII di daerah Gerakan Banteng Nasional dilancarkan operasi Banteng Raiders.
3.DI/TII Aceh
Adanya berbagai masalah antara lain masalah otonomi daerah, pertentangan antargolongan, serta rehabilitasi dan modernisasi daerah yang tidak lancar menjadi penyebab meletusnya pemberontakan DI/TII di Aceh. Gerakan DI/TII di Aceh dipimpin oleh Tengku Daud Beureueh yang pada tanggal 20 September 1953 memproklamasikan daerah Aceh sebagai bagian dari Negara Islam Indonesia dibawah pimpinan Kartosuwiryo. Pemberontakan DI/TII di Aceh diselesaikan dengan kombonasi operasi militer dan musyawarah. Hasil nyata dari musyawarah tersebut ialah pulihnya kembali keamanan di daerah Aceh.
4.DI/TII Sulawesi Selatan
Pemerintah berencana membubarkan Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) dan anggotanya disalurkan ke masyarakat. Tenyata Kahar Muzakar menuntut agar Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan dan kesatuan gerilya lainnya dimasukkan delam satu brigade yang disebut Brigade Hasanuddin di bawah pimpinanya. Tuntutan itu ditolak karena banyak diantara mereka yang tidak memenuhi syarat untuk dinas militer. Pemerintah mengambil kebijaksanaan menyalurkan bekas gerilyawan itu ke Corps Tjadangan Nasional (CTN). Pada saat dilantik sebagai Pejabat Wakil Panglima Tentara dan Tetorium VII, Kahar Muzakar beserta para pengikutnya melarikan diri ke hutan dengan membawa persenjataan lengkap dan mengadakan pengacauan. Kahar Muzakar mengubah nama pasukannya menjadi Tentara Islam Indonesia dan menyatakan sebagai bagian dari DI/TII Kartosuwiryo pada tanggal 7 Agustus 1953. Tanggal 3 Februari 1965, Kahar Muzakar tertembak mati oleh pasukan TNI.
5.GERAKAN DI/TII DI KALIMANTAN SELATAN
Di daerah kalmantan selatan juga muncul pemberontakan dibawah pimpinan Ibnu Hajar. Mereka menamakan diri “Kesatuan Rakyat Jang Tertindas”. Untuk memperkuat KRJT mereka meminta bantuan dari Kahar Muzakkar dan Kartusuwiryo. Pada akhir tahun 1954, Ibnu Hajar membulatkan tekadnya untuk masuk Negara Islam. Ibnu Hajar diangkat menjadi panglima TII wilayah Kalimantan.
Untuk menumpas pemberontakan Ibnu Hajar ini, pemerintah menempuh upaya damai melalui berbagai musyawarah dan operasi militer. Gerakan perlawanan baru berakhir pada bulan juli 1963. Ibnu Hajar dan anak buahnya menyerahkan diri secara resmi. Pada bulan maret 1965 Pengadilan Militer menjatuhkan hukuman mati kepada Ibnu Hajar.
by : http://www.sejarahkita.comoj.com/jenny12.html
http://id.shvoong.com/society-and-news/news-items/2001128-gerakan-di-tii-di- kalimantan/items/2001128-gerakan-di-tii-di- kalimantan/
Diposting oleh Walid Waliyuddin di 02.19 0 komentar
Label: artikel





